Histori Kerajaan Sriwijaya dan Sesosok Sang Penguasa Balaputradewa - SEPUTAR IQ
HEADLINE HARI INI
Loading...

8/14/2022

Histori Kerajaan Sriwijaya dan Sesosok Sang Penguasa Balaputradewa

SEPUTAR IQ - Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim dengan corak Buddha yang sangat besar pada masanya. Tumbuh di tengah ramainya jalur perdagangan melintasi Selat Malaka yang dibawa oleh para pedagang dari China, India, dan Arab yang mempengaruhi budaya di Pulau Sumatera hingga saat ini.

Pada abad ke-7 Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa di Palembang, Sumatera Selatan. Di dalam prasasti Kedukan Bukit tercatat tahun 682 masehi menjadi tahun di mana kerajaan ini resmi didirikan. Nama Sriwijaya sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta dari kata "sri" yang berarti cahaya dan "wijaya" yang artinya kemenangan. Sebagai negara maritim, Kerajaan Sriwijaya kemudian memberikan pengaruh besar di nusantara.

Baca juga: Peraturan Kesejahteraan Karyawan, Sebagai Berikut?

Dua abad setelah didirikan tepatnya pada abad ke-9, di bawah kepemimpinan Raja Balaputradewa Kerajaan Sriwijaya mencapai masa keemasan pada tahun 856 Masehi. 

Balaputradewa merupakan anak dari Samaratungga, Raja Mataram Kuno, yang masih keturunan Dinasti Syailendra. Ayahnya dikenal sebagai pendiri Candi Borobudur, yang kini menjadi Candi Buddha terbesar di dunia. Pengaruh Kerajaan Sriwijaya di bawah kepemimpinan Balaputradewa meluas dari menguasai perdagangan di jalur utama Selat Malaka hingga ke Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, dan sebagian Pulau Jawa. Dari segi penyebaran agama, Kerajaan Sriwijaya juga menjadi pusat agama Buddha Mahayana di Asia Tenggara.

Menanggapi perubahan ekonomi maritim Asia, dan terancam oleh hilangnya negara bawahannya, Sriwijaya mengembangkan strategi angkatan laut untuk menunda kemerosotannya. Strategi angkatan laut Sriwijaya bersifat menghukum untuk memaksa kapal-kapal dagang datang ke pelabuhan mereka. Kemudian, strategi angkatan laut Sriwijaya merosot menjadi armada perompak.

Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya tahun 1025 Masehi, serangan Rajendra Chola I dari Koromandel. Selanjutnya tahun 1183 Masehi kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya. Setelah keruntuhannya, kerajaan ini terlupakan dan keberadaannya baru diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 Masehi dari sejarawan Prancis George Cœdès.

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan, dan tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah. Masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing, dan tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an.

Ketika sarjana Prancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Tambahkan Komentar
Sembunyikan Komentar