Ekonomi Merosot Tajam Inilah Sisi Lain dari Negara Sri Lanka - SEPUTAR IQ
INFORMASI BERITA HARI INI PERISTIWA TERUPDATE

Ekonomi Merosot Tajam Inilah Sisi Lain dari Negara Sri Lanka

Menjadi Sri Lanka sangatlah tak mudah. Kekuatan ekonomi sebuah negara adalah salah satu pilar yang menjaga kestabilan negara. Jika ekonomi menurun, ditakutkan akan memberikan dampak buruk bagi negara dan rakyatnya. Negara Srilanka sedang mengalami hal tersebut. Ada beberapa fakta dan penjelasan mengenai menurunnya perekonomian Sri Lanka.



Ketika keadaan sudah tidak terselamatkan, ekonomi telah hancur, masyarakat menderita, dan tak ada lagi kepercayaan terhadap pemerintah. Rasanya sudah tak memiliki kuasa untuk menentukan jalan hidupnya. Berbeda dari pada beberapa dekade sebelumnya, negara kepulauan di samudera hindia yang berpenduduk 22 juta orang itu lebih stabil. Berikut penjelasan mengapa ekonomi Sri Lanka merosot tajam:
  • Hutang yang membengkak
    Setiap negara pasti memiliki hutang dan bukan berarti hal tersebut buruk. Malah sebaliknya berbeda kasus dengan Sri Lanka, yang mana negaranya memiliki hutang yang terus bertambah dan membengkak. Pada Februari 2022 negara ini hanya memiliki cadangan 2,31 Miliar USD, sementara hutang kepada luar negeri yang harus di bayar sekitar 4 Miliar USD termasuk pula kedalamnya obligasi negara internasional (ISB) senilai 1 Miliar USD.
  • Ancaman Inflasi yang Terus Naik
    Ekonomi Sri Lanka disebut menjadi ancaman inflasi bagi negara lain di dunia. Bahkan tercatat sejak bulan Maret, inflasi makanan di Sri Lanka mencapai 30,2%. Sri Lanka saat ini mengalami deprisiasi 40% mata uang terhadap Dolar AS. Hutang publik yang diperkirakan oleh dana moneter internasional sebesar 120% dari PDB, lanjut lagi obligasi Sri Lanka senilai 1 Miliar USD yang jatuh tempo pada bulan Juli. Sementara cadangan devisa dikabarkan sangat sedikit, situasi negara ini makin berantakan disebabkan juga oleh krisis energi. Semua faktor itu menyebabkan ratusan masyarakat Sri Lanka melakukan demo, yang disebut akan menambah beban inflasi di negara lain.
  • Devisa yang Menurun
    Turunnya kekuatan ekonomi Sri Lanka menyebabkan negara ini mengalami kesulitan parah dan bahkan susah untuk mendapat suntikan dana asing ditengah krisis ekonominya. Internasional Moneteri Fund (IMF) menyebutkan bahwa devisa Sri Lanka yang tersisa hanya dapat bertahan selama satu bulan saja. Sri Lanka mengupayakan langkah-langkah perbaikan dengan mengikuti syarat-syarat pengajuan dana yang diberikan IMF.
  • Larangan Menggunakan Pupuk Kimia
    Pertanian di Sri Lanka juga terkena dampak dari krisis. Pemerintah Sri Lanka yang berlakukan larangan terhadap penggunaan pupuk berbahan kimia, dengan alasan kampanye politik untuk menghasilkan dan konsumsi pangan yang sehat. Hal ini lah yang menyebakan Sri Lanka harus melakukan impor pupuk.
  • Kebijakan Keringanan Pajak
    Pemerintah Sri Lanka dapat dikatakan menjadi biang kerok. Terjadinya krisis, salah satu kebijakan yang dinilai menjadi titik kehacuran ekonomi negara tersebut, adalah pemotongan ppn. Pajak untuk rakyatnya dalam segala bentuk pembayarannya. Alasan kuat ini awalnya dimaksudkan meningkatkan konsumsi, namun naas tiga bulan setalah diberlakukannya kebijakan tersebut covid 19 melanda dunia. Pemberlakukan lockdown menghambat konsumsi dan membuat hutang publik di Sri Lanka meningkat.
  • Aksi Teriorisme
    Pada 2019 aksi terorisme telah terjadi di Sri Lanka. Terdapat 8 aksi terorisme yang terjadi hanya dalam satu hari dan berdampak kepada sektor pariwisata, yang mana devisa juga banyak dari sektor tersebut . Tak lama setelah itu terjadilah pandemi.



Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Tambahkan Komentar
Sembunyikan Komentar