Abu Nawas Cerita 1001 Malam - SEPUTAR IQ
INFORMASI BERITA HARI INI PERISTIWA TERUPDATE

Abu Nawas Cerita 1001 Malam

Gambar Abu Nawas Cerita 1001 Malam

SEPUTAR IQ - Abu Nawas atau dikenal sebagai Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia pada tahun 756 masehi, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik, ia digambarkan sosok yang bijaksana sekaligus kocak.

Dicetikan dalam kisah Seribu Satu Malam, Abu Nawas yang mengobati pangeran yakni, putra dari baginda Raja Harun Al-Rasyid. Suatu ketika, putra raja sedang sakit dan tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya raja mengadakan sayembara, dengan hadiah yang sangat menggiurkan.

Baca juga: Eksperimen Universe 25 Sebagai Negeri Utopia dan Surganya Bagi Para Tikus

Abu Nawas mengobati Pangeran dari Raja Harun?

Namun tak satupun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Sampai pada akhirnya, Abu Nawas menawarkan diri untuk menolong sang putra mahkota. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah seorang tabib, karena itu ia tidak membawa peralatan apa-apa.

Para tabib yang ada di istana pun tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang seperti Abu Nawas, akan bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup, bahkan penyakitnya pun tidak terlacak.

Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya dan ia pun dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. Kemudian menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya. Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata "Saya membutuhkan orang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri."

Orang tua yang diinginkan Abu Nawas pun  didatangkan. dia berkata pada orang tua itu "Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan." Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran.

Kemudian Abu Nawas memerintahkan juga agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri telah disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. raja pun merasa heran kepadanya. "Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya Abu Nawas.” ucapnya Raja.

Lalu Abu Nawas pun berkata "Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia". Tetapi aku belum paham, kata raja. Kemudian ia berkata lagi kepada raja "Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang.” kata Abu Nawas.

Sekembalinya Abu Nawas dari desa?

Singkat ceirta, ia pun pergi selama dua hari. Sekembalinya dari desa itu, Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap raja "Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?" tanya Abu Nawas.

Apa maksudmu? kata raja balas bertanya kepadanya. "Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini.” kata Abu Nawas. Bagaimana kau tahu? Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengatakannya kepada Baginda.”

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya raja kembali kepad Abu Nawas. "Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati.” Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak sang raja.

Begitu mendengar persetujuan sang raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih raja kepadanya, raja memberikan Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Tambahkan Komentar
Sembunyikan Komentar