Pancasila Sebagai Dasar Negara Indonesia - SEPUTAR IQ
HEADLINE HARI INI
Loading...

10/02/2022

Pancasila Sebagai Dasar Negara Indonesia

Pancasila sebagai ideologi, sejarah perumusan pancasila, penetapan hari lahir pancasila, dan psikologi pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ideologi Pancasila

Pancasila adalah pilar ideologi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari bahasa Sansekerta: "pañca" berarti lima dan "śīla" berarti prinsip atau prinsip. Pancasila adalah rumusan dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi rakyat Indonesia.

Lima ideologi utama penyusunan Pancasila adalah lima sila Pancasila. Ideologi pokok tersebut tertuang dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Meskipun terjadi perubahan isi dan susunan lima sila Pancasila yang terjadi dalam beberapa tahapan selama perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni secara bersama-sama diperingati sebagai hari lahir Pancasila.

Hari Lahir Pancasila

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, 1 Juni merupakan salah satu hari penting dalam penanggalan Indonesia. Pasalnya, pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Terpilihnya 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila mengacu pada momen persidangan Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI) dalam upaya merumuskan undang-undang dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Badan ini mengadakan sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945. Dalam sidang tersebut, para anggota BPUPKI membahas dasar-dasar Indonesia merdeka.

Pada sidang kedua BPUPKI, Soekarno dalam sambutannya yang berjudul “Kelahiran Pancasila” berkesempatan menyampaikan gagasannya tentang konsep awal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato ini awalnya disampaikan oleh Sukarno secara aklamasi tanpa gelar dan hanya mendapat gelar "Lahirnya Pancasila," oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian direkam oleh BPUPKI.

Sejarah Perumusan Pancasila

Pancasila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945 dalam pidato spontannya yang kemudian dikenal dengan Lahirnya Pancasila. Soekarno mengemukakan gagasan dasar negaranya, yang ia beri nama "Pancasila." Ide-ide tersebut antara lain: nasionalisme atau nasionalisme Indonesia, kemanusiaan atau internasionalisme, konsensus atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan budaya.

Sebelum sidang pertama berakhir, dibentuk panitia kecil untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara berdasarkan pidato yang diucapkan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan Indonesia merdeka. Dari panitia kecil tersebut dipilih sembilan orang yang dikenal dengan nama Panitia Sembilan untuk melaksanakan tugas tersebut. Rencana mereka disetujui pada tanggal 22 Juni 1945, yang kemudian diberi nama Piagam Jakarta.


Setelah rumusan Pancasila secara resmi diterima sebagai dasar negara, beberapa dokumen penetapannya adalah:
  1. Formula Pertama: Piagam Jakarta (Jakarta Charter) - 22 Juni 1945
  2. Rumus Kedua : Pembukaan UUD 1945 - 18 Agustus 1945
  3. Rumus Ketiga : Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Serikat - 27 Desember 1949
  4. Rumus Keempat: Pembukaan UUD Sementara - 15 Agustus 1950
  5. Rumus Kelima : Rumus Pertama menjiwai Rumusan Kedua dan merupakan rangkaian kesatuan dengan UUD (merujuk pada Dekrit Presiden 5 Juli 1959)


Psikologi Pancasila

Sikap dan perilaku Pancasila diharapkan dari setiap warga negara Indonesia. Psikologi sebagai ilmu psikologi dan perilaku berperan dalam menjelaskan dan memprediksi sikap dan perilaku tersebut melalui penelitian empiris. Sejumlah penelitian tentang psikologi Pancasila telah dilakukan di Indonesia. 

Kajian paling awal dari tes psikometrik validitas simultan Pancasila menghasilkan bukti bahwa pengukuran perilaku untuk sila pertama sampai kelima Pancasila sesuai dengan pengukuran (1) sikap terhadap Tuhan, (2) identifikasi dengan kemanusiaan, (3) patriotisme, (4) dukungan terhadap prinsip-prinsip demokrasi, dan (5) kemanusiaan.

Ukuran Pancasila juga sejalan dengan keutamaan budi pekerti berupa transendensi, kemanusiaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadilan. Hasil kajian psikologi juga menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak berkurang tetapi memperkuat identitas Pancasila generasi muda Indonesia.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda
Tambahkan Komentar
Sembunyikan Komentar